Kamis, 12 Oktober 2017

Asyiknya Petualangan Susur Goa Pindul dan Rafting Sungai Oya

Ini ceritanya late post yang kebangetan...

Nemu foto jadul, jadi teringat kalau dulu pernah ke Goa Pindul, sayang banget kalau nggak ditulis. Sebagai kenangan kalau pernah ke sini dan juga kenangan dulu pernah jadi orang kantoran yang kerja 6 hari seminggu, dan 8 jam per hari. 

Goa Pindul
Jadi ceritanya 4 tahun yang lalu, kantor saya mengadakan outing ke Goa Pindul. Pemilihan Goa Pindul bukan tanpa alasan, selain dekat karena masih di wilayah DIY, waktu itu Goa Pindul juga lagi happening. Jadi biar gaul, harus nengok ke sana. 

Kebetulan ada seorang kawan kantor yang rumahnya di daerah Bejiharjo yang nikah. Jadi sewaktu kita rame-rame berangkat kondangan, sekalian kami survey sekedar untuk melihat-lihat situasi di sana. 

Setelah obral obrol dengan warga sekitar dan melihat foto yang ada, akhirnya kita sepakat mau mengadakan acara gathering sekaligus refreshing di sana. 

Di hari yang disepakati kami berombongan berangkat bareng menggunakan 2 buah bus sekitar pukul 08.00 WIB. Agak molor 1 jam dari waktu awal yg disepakati. Padahal tadinya sepakat berangkat jam 07.00 WIB agar sampai lokasi masih pagi sehingga tidak terlalu panas untuk berkegiatan. Karena waktu itu kami mengambil paket yang ada outbondnya. Jadi sebelum kegiatan tubing Gua Pindul dan rafting Sungai Oya, ada permainan bersama sebagai ice breaking dan pemanasan. 

Sekitar pukul 09.30 WIB kami sampai lokasi. Setelah semua siap, kamipun mulai kegiatan awal..outbond tipis-tipis.

Diawali dengan pemanasan ringan berupa peregangan, kami kemudian dikelompokkan dalam grup yang terdiri dari 10 orang. Kemudian kami mulai permainan kekompakan berupa balap bakiak dan egrang. Seru juga ternyata. Seperti mengulang kembali masa kecil. Beberapa teman tampak bersemangat mengikuti, bahkan ada yang sampai terjatuh-jatuh. 
Lomba Egrang

Sekitar 20 menit kami memainkan dua permainan itu. Untuk kemudian kami melanjutkan games ke 3 yakni tangkap ikan. Sebuah kolam berukuran kurang lebih 4m x 4m dengan air setinggi lutut dan warna air kehijauan karena penuh lumut telah dipersiapkan. Setiap kelompok dipersilahkan memilih anggotanya untuk masuk ke dalam kolam untuk menangkap ikan. Kelompok dengan jumlah ikan paling banyaklah yang nantinya menang. Sepuluh menit pertama suasana tertib, masing-masing anggota kelompok berusaha menangkap ikan dengan sebaik-baiknya. Tetapi menit selanjutnya anggota lain yang nenunggu di atas menjadi tidak sabar, karena yang di kolam seperti kesulitan menangkap ikan. Akhirnya berbondong-bondong anggota kelompok yang masih di atas turun masuk ke dalam kolam. Akibatnya bisa dibayangkan, kolam penuh sesak dengan orang-orang dan semakin sulit menangkap ikan. Akhirnya ada satu orang yang iseng menciprati anggota yang lain dengan air kolam yang kotor. Yang kena ciprat tidak terima dan membalas, kena ke anggota lainnya, yang akhirnya juga ikut mencipratkan air. Akhirnya lomba tangkap ikan berubah menjadi ajang siram-menyiram air yang heboh..
Dan di manakah saya berada ? Tetep di atas kolam dong...menjadi penonton sambil tertawa-tawa melihat tingkah mereka. 

Lagi seru-serunya "pertempuran" di kolam berlangsung, tiba-tiba terdengar peluit dari pemandu acara. Artinya kegiatan pemanasan berakhir dan kita menuju ke petualangan selanjutnya...cave tubing pindul.

Menuju Lokasi Goa Pindul
Perjalan kami selanjutnya adalah menuju markas dari pihak pengelola yang kami pilih untuk memandu kami dalam kegiatan tubing Pindul dan rafting Oya ini. Di sana nanti kami akan dibagi peralatan yang kami butuhkan berupa ban besar sebagai pelampung dan jaket pelampung. 

Selama perjalanan kami melihat rombongan pengunjung lain yang telah siap dengan peralatan tempurnya. Sebuah ban besar mereka bawa dan jaket pelampung melekat di badan mereka. Jaket pelampung yang mereka pakai berbeda-beda warnanya, ada yang biru, orange, dan merah.

Sampai di markas pengelola, masing-masing kami diberi ban dan jaket pelampung untuk kami kenakan. Menggunakan jaket pelampung adalah syarat wajib, yang bisa maupun tidak bisa berenang harus memakainya. Itu sudah menjadi standar keamanan yang wajib diikuti. Selanjutnya kami diarahkan pemandu menuju pintu masuk Goa Pindul...dan ternyataa..jeng..jeng..jeng..kami harus antrii...

Foto sebelum ke lokasi

Siap dengan peralatan tempur
Antriannya panjang mengular tampak di beberapa sisi, semua menunggu giliran masuk. Ya maklum hari itu hari Sabtu jadi banyak yang berkunjung. 

Antrian

Cukup lama kami mengantri, ada sekitar 45 menitan. Lumayan membosankan ditengah udara siang yang cukup terik. Sampai kemudian kami diminta bersiap dan mulai masuk ke dalam sungai yang yang menjadi jalan masuk ke arah gua, lega rasanya ketika kami sudah mulai masuk ke dalam sungai dan mulai bersiap untuk susur goa. Namun ternyata di dalam sungai kami harus antri lagi..hiks..
Narsis sambiln nunggu antrian

Karena memang jumlah pengunjung yang bisa masuk ke dalam goa dibatasi, selain karena faktor keamanan dan kenyamanan (kalau terlalu banyak yang masuk takutnya cadangan oksigen yang ada di dalam goa tidak cukup dan bisa membahayakan keselamatan pengunjung) adanya kawanan kelelawar yang menghuni goa juga perlu dijaga agar mereka tidak merasa terganggu dengan suara manusia. 

Oh ya, sambil menunggu antrian, saya cerita sedikit tentang Goa Pindul ya..

Tentang Goa Pindul
Goa pindul merupakan destinasi wisata alam susur goa bawah tanah, yang di dalamnya terdapat aliran sungai di sepanjang lorong goa. Sehingga susur goa dilakukan dengan menyusuri aliran sungai menggunakan peralatan khusus berupa ban dalam besar (tube) dan jaket pelampung. Itulah sebabnya kegiatan susur goa pindul diberi istilah cave tubing Pindul. Adapun sejarah dari Goa Pindul sendiri konon kabarnya kisah penamaan Gua Pindul diawali dari sebuah peristiwa dimana utusan dari Panembahan Senopati yang diberi perintah untuk membuang seorang bayi. Yang ketika dimandikan di sungai yang mengalir di sebuah gua, tidak sengaja pipinya terantuk dinding gua, sehingga akhirnya mbendul..jadilah gua itu dinamai GOA PINDUL, alias GUA PIPI KEBENDHUL...

Goa pindul mulai dikelola sebagai objek wisata sejak tahun 2010. Berdasar informasi yang saya peroleh goa  ini memiliki panjang kurang lebih 350 meter, lebar antar dinding rata-rata 4 meter, ketinggian dari permukaan air dengan dinding atas sekitar 5 meter dan kedalaman air sungai sekitar 1-12 meter. Penyusuran dapat ditempuh dengan waktu normal 40-60 menit. Durasi waktu tergantung situasi, kondisi dan keinginan pengunjung sendiri. Kalau penuh seperti saat ini bisa jadi waktu tempuh lebih pendek,,karena memberi kesempatan pada yang lain juga..

Pemandangan Unik di dalam Goa
Wah nggak terasa, tiba giliran kelompok kami masuk ke dalam goa. Kami saling berpegangan ban, kemudian oleh pemandu kami di dorong masuk menuju mulut goa..dan petualanganpun dimulai...

Sebelum menyusuri goa, pemandu berpesan agar kami tenang. Di dalam goa hidup kawanan kelelawar yang peka terhadap suara, suara yang bising takut mengganggu tidur mereka. 

Pertama yang kami masuki adalah zona gelap, tidak ada cahaya yang masuk ke dalam goa. Satu-satunya sumber cahaya adalah lampu senter dari pemandu yang digunakan untuk menunjukkan keindahan stalagtit dan stalagmit goa. Tahu kan bedanya stalagtit dan stalagmit? Stalagtit itu batuan yang terbentuk dari tetesan air ke arah bawah (ke lantai gua), sementara stalagmit adalah batu yang terbentuk dari rembesan air ke arah ke atas (ke arah langit goa), gampangnya begitu..:)

Ada banyak stalagtit yang ada di Goa Pindul, diantaranya yang istimewa adalah batu stalagtit mutiara yang tetesan airnya dipercaya bikin awet muda jika dioleskan ke wajah.

Batu mutiara

Adalagi batu tirai yang bentuknya bergerombol seperti tirai. Terdapat juga stalagtit raksasa yang disebut soko guru, yang bentuknya seperti tiang yang menyangga goa. Memiliki panjang sekitar 7 meter dan lebar sekitar 5 rentang tangan orang dewasa. Zona di mana batu soko guru berada ini disebut zona sempit.
Batu tirai

Pilar kembar / soko guru

Selanjutnya terdapat juga stalagmit yang disebut batu perkasa, yang diyakini bisa menambah keperkasaan bagi pria yang menyentuhnya.
Batu perkasa

Selesai menikmati indahnya bebatuan yang ada di langit2 goa, kami masuk zona remang-remang. Di sini banyak sekali kelelawar yang bergelantungan di atap Goa sehingga di dinding goa terdapat banyak lukisan yang dibuat oleh kelelawar yang berasal dari kotoran atau mungkin juga air liur si kelelawar.

Contoh lukisan kelelawar


Cahaya Surga
Selesai menyusuri zona kelelawar, sebelum hampir ke finish kami melihat cahaya matahari yang menerobos masuk ke dalam goa melalui lobang yang ada di atas goa yang karena keindahannya disebut sebagai cahaya surga.
Cahaya surga

Zona terang

Nah di area yang disebut goa vertikal yang merupakan zona terang ini, kami bisa melakukan aktifitas bermain air dan foto-fotoan sepuasnya. Tidak perlu takut tenggelam, karena jaket pelampung akan mempertahankan posisi kita tetap mengapung. Jadi bagi yang tidak bisa berenang, tetap aman. Yang dibutuhkan hanya nyali alias keberanian. 

Sebenarnya kami masih ingin berlama-lama di situ, bermain air dan menikmati suasana yang tenang di sana. Sayang, kami harus bergantian dengan rombongan lain, sehingga petualangan di Goa Pindul harus kami sudahi.

Akhirnya kami keluar melalui sungai yang disebut Banyu Moto untuk melanjutkan perjalanan menuju Sungai Oya dengan menggunakan mobil bak terbuka. Di sungai oya nanti kami akan melakukan susur sungai atau rafting. 

Cerita mengenai susur sungai Oya Insya Allah saya lanjutkan di lain waktu ya....
Terima kasih...

***

Catatan : foto dokumentasi dari pemandu kegiatan.

Senin, 09 Oktober 2017

Peran Blogger dan Kesadaran Masyarakat untuk Bijak Bersosmed

Kemarin sewaktu hadir dalam acara bincang santai dan ramah tamah antara IMA (Indonesia Marketing Assosiation) chapter Sleman dengan para blogger di Malibu sky lounge, hotel Rich Jogja ada sebuah kalimat dari penyelenggara yang membuat kami para blogger (eh setidaknya saya) merasa tersanjung. Ketika itu dikatakan bahwa di dunia pariwisata, para blogger ini ibarat manusia setengah dewa yang berkontribusi besar dalam memperkenalkan dan mempromosikan destinasi wisata sehingga menjadi viral.

Banyak tempat-tempat wisata yang tadinya tidak banyak yang tahu dan sepi pengunjung, menjadi ramai dan hingar-bingar dikunjungi para pelancong karena tulisan dan ulasan di blog.

Sehingga karena alasan dan pertimbangan itulah kemudian pihak IMA chapter Sleman yang diberi tugas untuk mempromosikan berbagai potensi yang ada di wilayah Sleman merasa perlu untuk menggandeng dan bekerjasama dengan para blogger untuk lebih mengenalkan sleman sebagai Part of Jogja dengan semboyan Sleman the living of culture. 

Arahan dari Bupati Sleman Bapak Sri Purnomo dalam Bincang Santai
IMA chapter Sleman dengan para blogger

Wefie di lobi hotel Rich Jogja

Bagi saya anggapan atau kalau boleh dibilang sanjungan itu terlalu tinggi, meskipun tidak bisa dipungkiri tulisan-tulisan atau ulasan-ulasan di blog memang sering dijadikan acuan dan rujukan masyarakat untuk berkunjung ke suatu tempat "baru", tetapi sesungguhnya berkembang atau tidaknya suatu tempat wisata itu tetap tergantung dari respon masyarakat sekitar dan pihak terkait untuk meningkatkan dan memperbaiki layanan yang ada. Terutama mental masyarakatnya untuk tidak aji mumpung, tetap ramah, dan memperhatikan kebersihan. Seberapapun besar potensinya jika tidak dijaga dan dipelihara, nihil juga hasilnya. 

Karena sesungguhnya menurut pendapat saya, blogger itu adalah orang-orang yang memiliki tangan selo (dalam arti positif) yang berusaha mengabadikan setiap momen yang dilalui (entah itu pengalaman jalan-jalan, makan, belanja, atau kegiatan lainnya) lewat tulisan-tulisan yang bisa dijadikan kenangan yang bisa dibaca kembali sewaktu-waktu sekaligus berbagi pengalaman dengan pembaca. 

Spot Riyadi, destinasi mblusuk yang saya ketahui setelah membaca blog orang

Memang ada kepuasan tersendiri jika ada orang lain yang membaca blog kita memperoleh manfaat dari tulisan-tulisan yang kita buat. Dan kalaupun kemudian hobi ngeblog itu menjadi jalan rejeki, itu tidak lepas dari hukum tabur tuai dan kemurahan dari Illahi.

Bicara tentang tangan selo saya jadi ingat pesan yang disampaikan Gusti Hayu dalam kopdar komunitas #bijakbersosmed yang diselenggarakan Indosat Ooredoo dan Siber Kreasi yang diadakan di Angkringan Ndalem  tgl 5 Oktober kemarin. Gusti Hayu mengingatkan agar dalam menggunakan media sosial kita harus menjaga "jempol selo" kita agar tidak sembarangan dalam menulis atau membuat status, termasuk dalam men-share berita. Saring dulu sebelum sharing. Karena kemajemukan yang ada di negara kita harus terus dijaga dan dipelihara demi keutuhan negara kita. 

Merchendise kopdar #bijakbersosmed
Kopdar yang dihadiri berbagai komunitas yang ada di Jogja yang merupakan para pegiat media sosial (medsos) sepakat untuk terus mengkampanyekan kesadaran #bijakbersosmed kepada masyarakat di sekitarnya. 
Sehingga tidak ada tempat untuk berita hoax, fitnah, dan ghibah. Sudah selayaknya media sosial (medsos) dibanjiri dengan info dan konten-konten positif. 

Oleh karena itu sudah saatnya mulai sekarang kita penuhi medsos-medsos kita dengan berita-berita positif. Share resep masakan, berbagi info kegiatan-kegiatan komunitas, atau malah berjualan di medsos lebih baik dibanding kita share tentang berita-berita politik berisi adu domba yg kita sendiri belum tentu tahu kebenarannya.. stop ujaran kebencian, bullying dan hoax. Mari bersama kita jadikan segalanya menjadi lebih baik...budayakan menulis dan membaca serta menelaah berita, jangan mudah diombang-ambingkan dan dimanfaatkan.

Selasa, 03 Oktober 2017

Puro Pakualaman, Istana yang Kerap Terlupakan

Sabtu pagi, 30 September 2017 saya sudah berada di pintu gerbang Puro Pakualaman. Bergabung bersama sekumpulan orang yang telah terlebih dahulu datang. Ya..hari itu kami berkumpul untuk mengikuti kegiatan yang diberi nama "kelas heritage". Sebuah acara yang digagas malamuseum yang bertujuan menghidupkan kembali minat masyarakat untuk belajar sejarah dengan langsung datang ke lokasi bangunan atau gedung yang dianggap memiliki nilai sejarah tersebut.

Topik yang akan dibahas dalam kelas heritage kali ini adalah "Puro Pakualaman dalam Bentang Sejarah"

Sebagaimana kita tahu, Yogyakarta memiliki 2 istana yakni keraton Yogyakarta, dan Puro Pakualaman.
Bila dibandingkan dengan Keraton Yogyakarta, Puro Pakualaman memang lebih kecil dan sederhana. Keberadaannya pun sering terlupakan. Padahal Puro Pakualaman memiliki kontribusi terhadap keberadaan negeri ini. Apa saja itu, nanti kita simak bersama.

Ada beberapa alasan kenapa saya tertarik mengikuti kelas heritage kali ini, diantaranya adalah karena saya belum pernah mengunjungi Puro Pakualaman dan saya ingin tahu cara penyampaian materi dalam kelas heritage yang diadakan malamuseum.

Sebagai informasi malamuseum adalah sebuah komunitas yang berisi sekumpulan anak muda yang memang memiliki latar belakang pendidikan di bidang sejarah dan ingin berbagi pengetahuan tentang sejarah kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan yang dikemas dengan cara yang berbeda.

Dan bak gayung bersambut, animo masyarakat yang datang ke kelas heritage ini lumayan besar. Ada sekitar 50 orang yang datang, itupun dari pihak penyelenggara telah menolak sekitar 80  peserta yang mendaftar belakangan.

Pukul 08.30 kegiatan dimulai, diawali dengan perkenalan pemberi materi dari malamuseum yang bernama mas Erwin. Dalam pengantarnya mas erwin menjelaskan tentang berbagai larangan bagi pengunjung istana Puropakualaman, diantaranya :
1. Tidak boleh naik bangsal Sewotomo
2. Tidak boleh masuk ke dalam bangunan Purwo Retno
3. Tidak boleh masuk tempat tinggal raja (istana)

Selain itu pengunjung yang menggunakan celana pendek, kaos singlet, atau bersandal juga di larang masuk area kompleks istana.

Larangan di pintu masuk Puro Pakualaman

Selanjutnya mas Erwin mengajak kami ke luar area Puro Pakualaman menuju ke sebuah tanah lapang yang berada di depan Puro Pakualaman yang bernama alun-alun Sewandanan. Di sini dijelaskan mengenai asal-usul Puro Pakualaman yang berlokasi di Jalan Sultan Agung, kompleks Puro Pakualaman. Kurang lebih berjarak 1,2 km dari Malioboro.

Ada satu hal yang miris dan perlu digarisbawahi, bahwa rasa iri dengki dan mudah dihasut adalah awal dari kehancuran sebuah negeri..itu pula yang melatarbelakangi berdirinya Puro Pakualaman ini..

***
Setalah ditandatanganinya perjanjian Giyanti (palihan nagari) dimana Mataram dibagi menjadi 2 yakni Surakarta dan Yogyakarta, bertahtalah Pangeran Mangkubumi di Keraton Yogyakarta dengan gelar Sultan Hamengku Buwono I.

Sultan Hamengku Buwono I memiliki banyak istri dan seorang permaisuri bernama Gusti Kangjeng Ratu Hageng. Dengan sang permaisuri, beliau memiliki seorang putra yang nantinya diangkat sebagai seorang putra mahkota bernama Pangeran Adipati Anom yang dipersiapkan untuk menggantikan esfatet kepemimpinan menjadi Sultan Hamengku Buwono II. Di lain pihak, Sultan Hamengku Buwono I memiliki seorang putra dari garwa selir bernama Ratu Srenggana yang sangat cerdas dan memiliki kecakapan di bidang ketatanegaraan yang amat disayangi, bernama R.M Notokusuma. Namun karena aturan kerajaan, R.M. Notokusuma tidak dapat diangkat menjadi pewaris tahta. Kepada R.M Notokusuma Sultan Hamengku Buwono I berpesan agar senantiasa mendukung dan membantu pemerintahan kakak tirinya kelak. RM Notokusuma menaati pesan ayahandanya, dan hubungan beliau dengan Sultan Hamengku Buwono II terjalin harmonis dan akrab.

Hal tersebut memunculkan ketidaksukaan dan kecemburuan dikalangan kerabat istana. Diantaranya dari sang putra mahkota (putra Hamengku Buwono II) yang khawatir tahtanya jatuh ke tangan R.M.Notokusuma, dan dari Patih Danurejo II yang tidak suka terhadap R.M. Notokusuma karena cemburu dengan anak dari R.M Notokusuma yang bernama R.M. Notodirjo yang menikah dengan putri Hamengku Buwono II.
Di sisi lain, ada Paku Buwono IV raja Kasunanan Solo juga tidak suka terhadap keraton Jogja yang utuh, dan menginginkan Keraton Jogja dipecah 2 seperti Solo, yang saat itu terbagi menjadi Kasunanan dan Mangkunegaran.

Benih ketidaksukaan itu tumbuh dengan subur, dan memperoleh kesempatan tatkala Belanda kalah dengan Perancis, dan pemerintah Perancis  mengirim Daendels untuk menguasai Jawa.

Hamengku Buwono II tidak menyukai Daendels dan tidak mengakui kekuasaan Daendels di keraton Yogyakarta. Sehingga memunculkan ketegangan antara pihak keraton dengan Belanda. Pada akhirnya Hamengku Buwono II diturunkan paksa oleh Daendels dan naiklah Hamengku Buwono III. Sedangkan Notokusuma dan Notodirjo diasingkan ke luar jogja karena dituduh ikut membantu pemberontakan di Madiun.

Setahun kemudian, Inggris berhasil merebut daerah kekuasaan Perancis. Hal tersebut dimanfaatkan Hamengku Buwono II untuk naik tahta kembali. Akibatnya Hamengku Buwono III melarikan diri dari istana dan Danurejo II dihukum mati.

Notokusuma dan Notodirjo dikembalikan ke Jogja dan mempunyai misi agar Hamengku Buwono II mengakui kekuasaan Inggris dan minta maaf kepada
Rafles karena telah membunuh Danurejo II. Sultan Hamengku Buwono II menyanggupi, tapi meskipun demikian beliau tetap tidak suka terhadap kolonialis. Akhirnya atas bujukan Paku Buwono IV yang bermuka dua ( pura-pura mendukung Hamengku Buwono II padahal punya misi agar keraton Jogja pecah jadi 2) Sultan Hamengku Buwono II menyerang pasukan Rafles, karena merasa dapat dukungan dari Paku Buwono IV.

Pada akhirnya Hamengku Buwono II mengalami kekalahan hebat, tembok bangunan istana jebol dan kekalahan itu harus dibayar mahal dengan dirampasnya berbagai naskah kuno dan harta keraton oleh pasukan Inggris. Ditambah lagi harus menandatangani perjanjian Tuntang yang isinya menerangkan kekuasaan kasultanan Yogyakarta diperkecil dan jumlah pasukannya dikurangi. Selain itu,  pihak keraton juga diharuskan mengganti kerugian terhadap Inggris sebesar 100.000 real setiap tahunnya. Sultan Hamengku Bowono II kemudian dibuang ke Pulau Penang dan Hamengku Buwono III diangkat kembali.

Selanjutnya, oleh pemerintah Inggris R.M. Notokusuma diangkat menjadi pangeran merdeka, dan diberi tanah sebanyak 4000 cacah dan menjadi cikal bakal Kadipaten Pakualaman yang resmi berdiri tanggal 17 maret 1812. Wilayah kabupaten (wilayah administratif) Pakualaman meliputi kecamatan Pakualaman dan wilayah Adikarto di Brosot.

Bangunan keraton Pakualaman menghadap ke selatan, untuk menghormati keraton Yogyakarta yang sudah lebih dahulu berdiri.

Sebagaimana konsep kota-kota kerajaan di Jawa pada umumnya,yang memiliki empat komponen utama (konsep Catur Gatra Tunggal) yang berada dalam satu kesatuan, yang terdiri atas keraton, masjid, Alun-alun dan pasar. Puro Pakualaman juga memiliki 4 komponen tersebut, alun-alunnya bernama Sewandanan, masjidnya Masjid besar Pakualaman, dan pasarnya Pasar Sentul.

Pintu masuk masjid Puro Pakualaman

Konsep Puro Pakualaman berdasar konsep rumah Jawa, dimana rumah merupakan hal yang sangat privacy, sehingga terbagi atas :
# pendopo, untuk menerima tamu orang luar
#pringgitan (teras penghubung pendopo dan dalem) untuk menerima tamu yang sudah dikenal
# ndalem : khusus untuk keluarga
# gadri / dapur.

Puro Pakualaman cerminan dari mangkunegaran di Solo, yang membedakan adalah atap pendoponya. Puro pakualaman limasan, sedangkan mangkunegaran joglo.

Dalam perkembangannya, Puropakualaman pernah mengalami krisis keuangan akibat gaya hidup dari para pangeran dan putri kerajaan yang mewah. Sehingga menjadikan hutang menumpuk.

Sampai kemudian terjadi pembaharuan di lingkungan Puropakualaman yang dilakukan oleh Paku Alam V yang merupakan putra bungsu Paku Alam II.

Dahulu Paku Alam V yang memiliki nama asli R.M Notowiloyo  pernah diasingkan di Brosot karena dituduh main mata dengan istri Hamengku Buwono III. Kehidupan R.M. Notowiloyo sangat sederhana dan peka terhadap penderitaan rakyat. Pembaharuan yang dilakukan Paku Alam V diantaranya adalah :
#Melakukan penghematan : semua perabotan istana dibuat sederhana, Legiun Pakualaman dihapuskan karena tidak efisien ( tdk ada lagi perang) dan justru sering dipakai Belanda utk membantu perang di daerah lain.
# Membuat semua pangeran dan putri di lingkungan Puro Pakualaman sekolah di sekolah Belanda.
# Masuk menjadi anggota freemason, krn dlm anggaran dasar freemason dikatakan semua orang mempunyai kedudukan yg sama dalam pendidikan.

Memang Paku Alam V ini memberikan perhatian yang cukup besar di bidang pendidikan. Salah satu kerabat Pakualaman yang juga concern terhadap pendidikan adalah bapak pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara yang nama mudanya R.M. Suryadi Suryaningrat.

Pada akhirnya keuangan Puro Pakualaman mulai membaik ketika tanah milik istana disewa Belanda untuk pendirian pabrik, diantaranya adalah pabrik gula Sewu galur.
Sehingga pada saat itu Paku Alam ke V melakukan perbaikan bagian istana diantaranya bangsal Sewotomo. Bangunan ini dibangun pasca gempa melanda Jogja, sekitar tahun 1867. Model bangsal sewotomo ini unik karena letak soko guru tidak berada di tengah tapi di belakang.

Bangsal sewotomo
Saat ini bangsal Sewotomo digunakan untuk menyimpan koleksi kereta milik istana yakni :  Kyai Manik Brojo, Nyai Roro Kumeyar, Kyai Jolodoro (baru, buatan dalam negeri,th 2015), dan Kyai Manik Kumolo yang digunakan pada saat pelantikan, pemberian dari Rafles.

Koleksi kereta Puro Pakualaman
Terdapat pula pusaka kerajaan berupa seperangkat gamelan bernama Pengrawit Sari yang digunakan utk upacara adat.

Seperangkat gamelan Pangrawit Sari

Di samping bangsal Sewotomo, di dalam komplek Puro Pakualaman terdapat satu bangunan cantik yang cukup menarik bernama Gedhong Purworetno.

Gedhong Purworetno

Bangunan bergaya Spanyol dengan warna kuning muda tersebut adalah bangunan yang sengaja dihadiahkan oleh Pakubuwono X kepada Pakualam VII karena telah menikahi putrinya bernama BRAy. Retno Puoso. Sayang keindahan bangunan itu hanya bisa dinikmati dari kejauhan. Kami tidak bisa masuk ke dalam lokasi bangunan yang terlindungi oleh pagar terkunci.

***
Pada masa kemerdekaan, Puro Pakualaman mengambil peran penting dalam mempertahankan NKRI dimana pada saat itu Paku Alam VIII berkolaborasi dg Hamengku Buwono IX menyatakan dukungan terhadap NKRI. Bahkan salah satu ruangan di Puro Pakualaman pernah digunakan sebagai tempat persembunyian tokoh nasional, salah satunya adalah Bung Karno yang pernah tinggal di Puro Pakualaman selama 7 minggu sebelum pindah ke Gedung Agung.

Dukungan dari kedua tokoh tersebut dalam mempertahankan keutuhan NKRI menjadi sebab musabab diberikannya status keistimewaan kota yogyakarta.

Saat ini Puropakualaman dipimpin oleh K.G.P.A.A. Paku Alam X yang mengemban amanah sebagai wakil Gubernur DI. Yogyakarta dan sekaligus penjaga kelestarian budaya Jawa.

***
Sekitar pukul 10.30 penjelajahan kami menyusuri tempat-tempat yang merupakan peninggalan Puro Pakualaman berakhir. Rasa panas dan penat terbayar dengan penjelasan yang runut, menarik, dan interaktif dari nara sumber malamuseum.

Pukul 11.00 suasana Puro Pakualaman kembali sepi. Hanya tinggal beberapa orang yang termasuk saya yang menunggu jemputan untuk pulang.

Semoga setelah ini banyak diantara kami yang kembali mengunjungi dan mengeksplor lebih dalam lagi tentang Puro Pakualaman dengan mengajak kawan dan saudara. Sehingga Puro Pakualaman tidak lagi merasa kesepian..

Baca : jelajah malam museum

Rabu, 27 September 2017

Jelajah 4 Museum, Cara Seru Belajar Sejarah sambil Berpetualang

Menjadi salah satu dari ratusan peserta jelajah 4 museum yang dilaksanakan di Benteng Vredeburg pada hari Minggu, 24 September 2017 pukul 14.00-20.00 WIB kemarin, memberikan kesan tersendiri buat saya. Takjub dengan animo masyarakat terutama generasi muda terhadap acara ini adalah salah satunya.
Pamflet acara jelajah malam museum, doc : malamuseum
Betapa tidak, acara yang mengambil konsep triathlon race ini dipenuhi oleh wajah-wajah berseri, bersemangat dan antusias dari para peserta yang kebanyakan datang dari kalangan muda. Bahkan menurut keterangan panitia, ada 500 pendaftar yang berminat mengikuti acara ini, meskipun pada akhirnya banyak yang ditolak karena terbatasnya kuota.

Kegiatan jelajah 4 museum merupakan kerjasama antara komunitas malamuseum dengan Museum Benteng Vredeburg.
Sebuah kegiatan yang dikemas dalam bentuk games interaktif dan petualangan ini dimaksudkan untuk menarik minat masyarakat khususnya generasi muda untuk berkunjung dan mencintai museum bahkan menjadikan museum sebagai sahabat, dengan sapaan khasnya "salam sahabat museum, museum di hatiku".

Tema jelajah malam museum kali ini adalah "Pahlawan Idolaku", dengan mengambil materi pembebasan Irian Barat. Sehingga nama kelompok yang dipakai adalah nama operasi militer yang digunakan pada saat itu. Adapun keempat museum yang akan dituju adalah Museum Benteng Vredeburg, Museum Sasmitaloka Panglima Besar Sudirman, Museum Dewantara Kirti Griya, dan Museum Perjuangan.

Agar lebih mengena, sebelum kegiatan berlangsung setiap peserta diberikan materi tentang pembebasan Irian Barat yang bisa dibaca dan dicermati. Dalam materi tersebut dijelaskan mengenai Trikora atau Tri Komando Rakyat sebagai langkah awal upaya pembebasan Irian Barat dan misi serta peran masing-masing operasi militer dalam keberhasilannya membebaskan Irian Barat. Sehingga dalam mengikuti kegiatan jelajah museum ini diharapkan para peserta lebih mengenal dan membawa semangat dari para pejuang Trikora dalam menjalankan misinya.

Dalam kegiatan jelajah museum kali ini, para peserta dibagi dalam 4 grup besar
yang terdiri dari :
GRUP I : Operasi banteng ketaton, yang terbagi dalam 3 kelompok yakni :

  1. Operasi Banteng Ketaton Mayor Udara Nayoan.
  2. Operasi Banteng Ketaton Letda Heru Santosa.
  3. Operasi Banteng Ketaton Letda Agus Hernoto.

GRUP 2 : Operasi Srigala, terbagi dalam 2 kelompok yakni :

  1. Operasi srigala Letnan Udara II Manuhua.
  2. Operasi Srigala Letda Heru Santosa.

GRUP 3 : Operasi Naga, terbagi dalam 3 kelompok, yakni :

  1. Operasi Naga Letda Soedarto.
  2. Operasi Naga Kapten Bambang Soepeno
  3. Operasi Naga Kapten Benny Moerdani

GRUP 4 : Operasi Jatayu, terdiri atas 3 kelompok yakni :

  1. Operasi Jatayu Kapt Psk Radix Sudarsono.
  2. Operasi Jatayu Mayor Untung.
  3. Operasi Jatayu Mayor Udara II B. Matitaputty.

Setiap kelompok terdiri dari 10 peserta, termasuk 1 orang yang dipilih menjadi komandan. Nantinya masing-masing peserta akan diberi peta jelajah yang berisi rute yang harus dilalui. Setiap rute, ditempuh dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang dengan jalan kaki, naik jeep, dan bersepeda. Selain itu diberikan juga atribut berupa kaos, topi, name tag, dan tas yang harus dikenakan selama berpetualang.

Fasilitas peserta, doc : Theresia Rani

Peta rute jelajah, doc : Pipiet Dhamayanti

Sebagai amunisi, peserta dibekali dengan air mineral dan uang-uangan yang bisa dibelanjakan kudapan dan makan malam di warung gerilya dan dapur umum yang disediakan di seputar Benteng Vrederburg.

Dalam rangka pelaksanaan jelajah museum ini, Museum Benteng Vredeburg memang ditata sedemikian rupa sehingga mencitrakan suasana perjuangan. Ada dapur umum, warung gerilya dan markas perjuangan. Para panitia yang bertugas juga mengenakan pakaian tempo dulu seperti yang biasa dikenakan pada masa perjuangan. Makanan yang terhidang juga makanan tradisional khas tempo dulu, seperti thiwul, lupis, dan gathot.
Logistik kudapan, doc : Pipiet Dhamayanti
Kegiatan jelajah museum diawali dengan registrasi ulang dan pembagian kelompok, yang dilanjutkan dengan acara seremoni berupa pengumuman dan aturan lomba dari panitia, serta pembukaan kegiatan yang ditandai dengan pemukulan kentongan oleh ibu Zaimul Azzah, M.Hum selaku kepala Museum Benteng Vredeburg.

Antrian Registrasi, doc : Pipiet Dhamayanti

Pembukaan acara oleh Kepala Museum Benteng Vredeburg, doc : pri

Sekitar pukul 14.40 kami bersiap untuk berangkat. Dalam kegiatan jelajah 4 museum ini, saya tergabung dalam kelompok Operasi Naga Letda Soedarto bersama 9 kawan saya yang berbeda-beda latar belakang. Kebanyakan dari mereka masih muda-muda, dengan status mahasiswa. Meskipun ada juga yang sudah ibu-ibu seperti saya. Tapi semua memiliki satu kesamaan, berjiwa muda dan ceria.
Kami siap beraksi, doc : Amma
Misi pertama kami adalah menuju museum Sasmitaloka Panglima Besar jenderal Sudirman yang kami tempuh dengan berjalan kaki. Jaraknya lumayan juga, cuma karena kami tempuh berbarengan dan dengan rasa senang, rasa lelah tidak terasa.

Berjalan menuju post 1, doc : Pipiet Dhamayanti

Museum ini terletak di daerah Bintaran dan dulunya memang bekas tempat tinggal Jenderal Sudirman. Sesampainya di Museum Sasmitaloka Pangsar Sudirman, kami menemui panitia yang sudah menunggu di sana. Dan oleh panitia, kami diberi misi untuk menjawab berbagai pertanyaan yang jawabannya ada di dalam museum.

Di dalam museum ini, kita bisa melihat sejarah kehidupan seorang pemberani dengan nasionalisme dan semangat juang yang tinggi. Yang dengan keterbatasannya tetap tidak patah semangat terus memimpin pasukannya melawan belanda memimpin perang gerilya.

Segala hal tentang kehidupan Pangsar Sudirman ada di museum ini. Mulai dari masa kecil, silsilah keluarga, barang-barang pribadi, berbagai peristiwa yang beliau alami semua terdokumentasi rapi.

Selesai misi yang pertama, segera kami melanjutkan misi yang kedua. Menuju museum Benteng Vredeburg, masih dengan berjalan kaki. Berbondong-bondong kami segera kembali menyusuri jalan menuju titik keberangkatan kami tadi.

Melewati jalan yang lumayan ramai dengan aktifitas sore para warga membuat kami harus hati-hati terutama saat harus menyeberang jalan. Diselingi obrolan ringan, tidak terasa tempat yang dituju sudah mulai terlihat. Sesampainya di Museum Benteng Vredeburg kami melanjutkan misi yang kedua. Ada 2 tugas yang harus kami lakukan yakni membatik dan menjawab pertanyaan yang tentu saja jawabannya bisa kami jumpai di museum..

Sekilas tentang Museum Benteng Vredebug. Museum Benteng vredeburg yang terletak di Jl A. Yani ini, secara bangunan memang sudah terlihat menarik. Khas peninggalan kolonial. Mengelilingi sudut-sudut benteng sangat mengasyikkan, serasa terbawa kembali ke masa lampau. Bangunan dan halaman terawat rapi, pohon-pohon banyak dan rindang sangat pas buat duduk bersantai melepas kepenatan seusai berkeliling museum.
wefie dengan latar belakang Benteng Vredeburg, doc : amma

Dahulu, Benteng Vredeburg bernama Rustenberg yang dibangun untuk melindungi pejabat Belanda dari serangan prajurit keraton.  Kemudian diganti Vredeburg pada tahun 1760 setelah dipugar oleh Sultan Hamengku Buwono I. 

Banyak peristiwa penting yang terjadi di benteng ini, mulai disusunnya rencana untuk menjebak Pangeran Diponegoro yang menentang Belanda sampai digunakan untuk menahan tokoh-tokoh Jogja yang anti Belanda sebelum dibuang ke luar Pulau Jawa.

Saat ini Benteng Vredeburg difungsikan sebagai museum khusus Sejarah Perjuangan Nasional. Banyak diorama yang ditampilkan sebagai penggambaran perjuangan pada masa lalu yang cukup menarik untuk kita ketahui. 
Salah satunya terdapat koleksi gogok dan poci, sebagai saksi perjuangan di markas gerilya WA KSAD Zulkifli Lubis di rumah bapak Marito di dusun Srunggo Selopamioro Imogiri Bantul. Gogok adalah tempat untuk menyimpan candu yang diselundupkan untuk dijual dan uangnya digunakan untuk membiayai perjuangan pada saat itu. Sedangkan poci digunakan untuk minum.

Setelah menjalankan misi yang kedua, kami beristirahat untuk sholat dan menikmati kudapan kedua. Semangkok wedang ronde ditemani kacang dan singkong rebus serta sepotong mendoan hangat lumayan bisa mengusir lelah yang mulai terasa.
Kurang lebih selama 30 menit kami istirahat. Untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju post selanjutnya.

Museum ketiga yang kami kunjungi adalah Museum Perjuangan yang ada di Jl Kol Sugiyono. Berbeda dengan post pertama dan kedua yang kami tempuh dengan berjalan kaki, kali ini kami ke sana dengan mengendarai jeep..yeayy..
Ini adalah pengalaman pertama saya naik jeep army. Seru sih...rame-rame membelah malam naik jeep. Tapi jujur saya agak kesulitan ketika naik dan turun mobil. Postur saya yang mungil yang jadi penyebab utamanya...
Jeep army yang kami naiki, doc : Pipiet Dhamayanti
Sampai di Museum Perjuangan. Bangunan Museum ini unik, perpaduan roma dan jawa. Berbentuk bulat dengan dilengkapi relief dan patung-patung kepala tokoh-tokoh pejuang seperti Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Panglima Polim, dll. Diresmikan pada tahun 1961, oleh Sri Paduka Pakualam VIII untuk mengenang sejarah perjuangan bangsa Indonesia dan mengenang  setengah abad masa kebangkitan nasional. Koleksi yang disimpan adalah barang-barang antara tahun 1908 -1940an.
Di post tiga ini, kami diberikan tugas untuk menyanyikan lagu nasional yang telah ditentukan panitia, selain juga harus menjawab pertanyaan seputar sejarah yang jawabannya ada di dalam museum.
Selesai melaksanakan misi yang kira-kira membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit, kami bergegas menuju post terakhir yakni Museum Dewantara Kirti Griya dengan masih mengendarai jeep.

Museum Dewantara Kirti Griya sesuai namanya, adalah museum untuk mengenang tokoh pejuang pendidikan Ki Hajar Dewantara. Museum ini terletak di Jl Tamansiswo, menjadi satu dengan kompleks sekolah Taman Siswo. Segala barang pribadi, buku-buku, foto-foto Ki Hajar Dewantara dan segala aktivitasnya terdapat di museum ini.
Misi yang harus kami selesaikan di sini adalah menjawab seputar aktifitas yang pernah dilakukan Ki Hajar dewantara dan sedikit mengenai silsilah keluarganya.

Sepuluh menit waktu yang kami perlukan untuk menyelesaikan misi, dan tiba waktu bagi kami untuk kembali ke Benteng Vredeburg dengan bersepeda...puluhan sepeda kumbang sudah tampak berjajar rapi siap untuk dikendarai. Namun sebelumnya kami diminta untuk mencoba dulu. Sepertinya mudah..tapi ternyata susah..dan akhirnya karena alasan demi lancarnya perjalanan kembali ke Benteng Vredeburg, saya memilih untuk bonceng saja..hihi..

Di Benteng Vredeburg, sudah banyak teman-teman yang kumpul. Saatnya kami melepas penat sambil menikmati kudapan dan makan malam dengan ditemani hiburan musik keroncong dari Sorlem, sambil menunggu pengumuman pemenang kegiatan jelajah 4 museum ini.
Hiburan musik keroncong

Kurang lebih setengah jam kemudian ditengah kami sedang menikmati makan malam, pemenang lomba diumumkan. Dan kelompok kami belum menjadi juara...hihi.. 

Dua kelompok yang menjadi juara 2 dan 3 kebetulan satu grup dengan kami di grup Naga. Kalau boleh kami berintrospeksi, dibanding dengan kami, dua kelompok yang menjadi juara tersebut lebih bersemangat dan lebih siap ketika menyanyikan yel-yel mereka. Dan mungkin salah satu yang menjadi kekhilafan kami juga adalah salah satu dari rekan kami tidak sengaja sempat googling untuk memastikan lagu Indonesia Merdeka yang harus kami nyanyikan sewaktu kami berada di post 3, itu lagunya seperti apa. Padahal googling jelas dilarang..hehe.. Sedangkan juara 1 diraih oleh kelompok operasi Jatayu Letnan Udara II B. Matitaputty. Ketiga kelompok yang beruntung memperoleh hadiah berupa piagam, voucher makan, dan uang pembinaan. Lumayan kan ?

Oh ya, meskipun kami tidak juara, kami tetap senang dan bersemangat lho, apalagi kami memperoleh pengalaman baru dan seru yang benar-benar mengesankan...dan bagi saya pribadi ini adalah sebuah previlage yang saya dapatkan sebagai relawan GenPi Jogja.

Dengan adanya kegiatan ini, saya yakin masyarakat banyak yang akan tertarik untuk mengikuti, karena cocok untuk ajang refreshing dan gathering.

Memang sih, kegiatan jelajah malam ini tidak bisa mengeksplore secara maksimal museum-museum yang kami kunjungi, tapi paling tidak kegiatan ini membuka wawasan bahwa banyak hal menarik yang bisa kami jumpai di museum. Dan berkunjung ke museum itu bukan merupakan hal yang kekunoan, tapi justru kekinian. Kalian-kalian yang haus ilmu dan ingin belajar sejarah masa lalu, yuk rame-rame datang ke museum...

Oh ya, bagi yang berminat menjadi peserta jelajah malam museum berikut saya berikan  tips agar enjoy mengikutinya :

  1. Pastikan tubuh dalam kondisi bugar, cukup makan dan minum.
  2. Kenakan sepatu yang nyaman.
  3. Bagi perempuan, disarankan memakai celana panjang.
  4. Bawa kebutuhan pribadi seperti obat-obatan maupun perbekalan seperti perlengkapan ibadah, camilan, tissue basah, dan lain-lain sesuai kebutuhan.
  5. Mengikuti kegiatan karena keinginan, bukan karena paksaan..:)

Minat juga ikut acara ini? Silakan follow akun ig malamuseum dan ig Museum Benteng Vredeburg. untuk informasi lebih lanjut. 

#Salamsahabatmuseum,museum dihatiku#
#genpijogja#

Kamis, 21 September 2017

GENPI Jogja dan Kontribusi terhadap Pariwisata

Mungkin banyak yang bingung, kenapa belakangan ini saya sering share tentang tempat wisata atau event yang ada di Jogja. Termasuk memberi ajakan untuk memberikan vote terhadap beberapa destinasi yang ada di jogja yang kebetulan masuk dalam nominasi anugrah penghargaan dalam event tertentu.

Pertanyaan yang mungkin muncul sekarang kesibukan saya apa..

Baiklah, dari pada saya musti jelasin satu persatu, saya akan bercerita..

Jadi begini, semenjak tanggal 29 Agustus 2017 saya resmi menjadi salah satu relawan Genpi Jogja. Kok bisa? Ya karena memang dibuka kesempatan dan kemudian saya mendaftar...terus apa itu Genpi?
Genpi kepanjangan dari Generasi Pesona Indonesia, sebuah komunitas yang dibentuk kementrian pariwisata yang memiliki tujuan meningkatkan potensi wisata yang ada di Indonesia melalui promosi digital (go digital). Komunitas ini ada
disetiap propinsi termasuk Jogja (ralat : belum semua, baru ada sekitar 10 Genpi di tingkat propinsi).

Genpi sendiri merupakan wadah yang berisi orang-orang dengan beraneka ragam latar belakang yang mempunyai minat dan ketertarikan yang sama untuk turut berkontribusi memajukan pariwisata yang ada di Indonesia dengan berpromosi di dunia maya melalui akun media sosial.

Selain terdiri dari para pengisi konten seperti blog, foto, ataupun video yang biasa bekerja secara online, anggota relawan Genpi Jogja juga terdiri teman-teman dari komunitas yang biasa bekerja secara offline, seperti komunitas malam museum, roemah toea, jemparingan langenastro, dll. Yang semua saling bersinergi, bekerja sama demi kemajuan pariwisata khususnya di kota Jogja.

Terus apa keuntungan jadi relawan Genpi jogja? Kalau bagi saya banyak, karena ini semacam menyalurkan minat saya yang sempat tertunda. Saya sangat suka belajar sejarah, dan suka dengan tempat-tempat bersejarah dengan segala adat istiadat yang ada di dalamnya. Dengan menjadi anggota Genpi Jogja, banyak info tentang kegiatan atau event budaya yang menarik yang bisa saya share dan saya ikuti. Termasuk info tentang destinasi wisata yang bagus untuk.dikunjungi.

Seperti informasi berikut ini yang mungkin penting juga untuk teman-teman ketahui..

Jogja telah familiar sebagai daerah tujuan wisata nasional maupun global. Berbagai destinasi pun muncul di berbagai publikasi.

Tahun ini, ada tujuh destinasi di Jogja yang masuk sebagai nominasi dalam Anugerah Pesona Indonesia 2017.



Destinasi itu adalah :

KATEGORI 1. SURGA TERSEMBUNYI TERPOPULER
C Wanawisata Budaya Mataram Dlingo - Kab. Bantul
Kode SMS vote: API 1C
Atau klik bit.ly/votewanawisata

KATEGORI 6. TEMPAT BERSELANCAR TERPOPULER
G Pantai Wediombo - Kab. Gunung Kidul
Kode SMS vote: API 6G
Atau klik bit.ly/votewediombo

KATEGORI 9. DATARAN TINGGI TERPOPULER
G Kalibiru - Kab. Kulon Progo
Kode SMS vote: API 9G
Atau klik bit.ly/votekalibiru

KATEGORI 10. TUJUAN WISATA BARU TERPOPULER
J Taman Breksi - Kab. Sleman
Kode SMS vote: API 10J
Atau klik bit.ly/votetamanbreksi

KATEGORI 11. KAMPUNG ADAT TERPOPULER
G Kampung Wisata Mangunan - Kab. Bantul
Kode SMS vote: API 11G
Atau klik bit.ly/votemangunan

KATEGORI 13. OBYEK WISATA BELANJA TERPOPULER
D Pasar Beringharjo - Kota Yogyakarta
Kode SMS vote: API 13D
Atau klik bit.ly/votepasarberingharjo

KATEGORI 14. OBYEK WISATA UNIK TERPOPULER
C Gua Jomblang - Kab. Gunung Kidul
Kode SMS vote: API 14C
Atau klik bit.ly/votejomblang

PERIODE VOTING TGL. 01 JUNI S/D 31 OKTOBER 2017

Cara melakukan pemilihan melalui sms vote:

Ketik keyword sesuai pilihan
Kirimkan ke nomor 99386 semua operator (Berlaku tarif premium Rp. 2.000,- per sms)

Contoh untuk memilih Kampung Wisata Mangunan, ketik API 11G kirim ke 99368

Cara pemilihan melalui web klik link
bit.ly/votemangunan lalu pilih Kampung Wisata Mangunan.

Yuuk, sama-sama kita berikan suara kita untuk menjadikan tempat-tempat wisata terpilih di atas menjadi yang terbaik, sesuai kategorinya.
Terimakasih untuk kontribusinya...

Selasa, 12 September 2017

"Pentholgila", Menikmati Sajian olahan Bakso yang Lain dari Biasanya

Siapa sih yang tidak kenal bakso? Hidangan yang berasal dari olahan daging dicampur dengan bahan-bahan lain berupa tepung dan bumbu dengan perbandingan tertentu, berbentuk bulat yang amat disukai banyak kalangan, baik tua maupun muda.

Biasa diolah dalam bentuk masakan berkuah atau dibuat hidangan lainnya. 

Salah satu olahan bakso atau ada pula yang menyebut dengan istilah "penthol" yang saat ini sedang trend adalah dengan dibakar dan disajikan dalam bentuk sate bakso. Banyak sekali kita jumpai gerobag-gerobag yang menawarkan hidangan ini di tempat-tempat keramaian atau di lingkungan sekolah. Ada yang memakai istilah "bakso mercon".

Sebagai penyuka aneka olahan bakso, saya sering mencoba mencicipi sate bakso yang ada di pinggir jalan. Rata-rata harga per tusuk 1000an. Untuk rasa ya masih rata-rata. Belum ada yang pas dengan selera. Umumnya menonjolkan rasa pedas dan manis dari kecapnya. Bahkan ada yang hanya sensasi pedasnya saja yang terasa. 

Ukuran baksonya juga tidak terlalu besar, cenderung kecil malahan.Karena saya sering merasa tidak puas dengan sate bakso yang dijual di pasaran, akhirnya saya sering membuat sendiri dengan bumbu dan cita rasa sesuai dengan selera saya.

Sampai kemudian saya berkesempatan mencoba sate bakso dari pentholgila yang diberi brand "Sate Bakso Clandestine".

Sate Bakso Clandestine
Sate bakso ini menonjolkan aroma dan cita rasa khas dari saus rempahnya. Perpaduan antara manisnya kecap, pedas cabe, dan bumbu-bumbu lain yang pas membuat cita rasa dan aroma sate bakso clandestine ini istimewa. Ditambah tampilan sate yang berwarna kuning kecoklatan yang tampak menggoda. Sensasi Pedasnya tidak menyiksa, dengan cita rasa manis gurih yang seimbang. Membuat ingin makan lagi dan lagi..

Baksonya juga empuk tidak keras, dengan ukuran yang mantab, satu tusuk berisi 4 butir bakso dengan ukuran lumayan besar. Bisa langsung dimakan sebagai cemilan, atau untuk teman makan nasi. Cocok pula dibawa sebagai bekal praktis ketika piknik atau amunisi cadangan kalau kelaparan.

Yummy,membuat ingin lagi dan lagi

Harganya memang lebih mahal dibanding sate bakso kebanyakan. Namun itu sebanding dengan cita rasa yang ditawarkan. Per tusuk dihargai Rp. 2500,- sampai Rp. 3000,-

Penasaran ingin mencobanya?atau tertarik untuk menjadi resellernya? Silakan langsung meluncur ke ig @pentholgila, ada produk-produk lainnya juga yang tidak kalah menggoda lho...

Alamat Rumah Produksi : 
Tilaman Wukirsari Imogiri Bantul, Jalan makam raja-raja/ Hutan Pinus. Polsek Imogiri ke kiri 500 meter, kanan jalan cat merah depan rumah ada gasebo
Hp : 085643114462

Selasa, 04 April 2017

Belajar Hidroponik dan menikmati Oseng Lompong di Omah Kecebong

Hai moms...
Apa kabar, semoga selalu dalam kondisi prima yaa...
Wah, nggak terasa, tahun 2017 sudah memasuki bulan keempat...dan belum satupun tulisan yang pernah saya buat di tahun 2017 ini..ckckck...memang benar, menulis harus dipaksa..

Baiklah..tulisan pertama saya di tahun 2017 ini akan saya awali dengan cerita tentang guest house dan resto yang lagi hits di kota Jogja yakni omah kecebong. Sebuah tempat makan dan guest house yang membawa konsep back to nature.

Ini adalah kali kedua saya ke omah kecebong. Dulu pertama kali nemu omah kecebong ini tidak sengaja, ketika jalan-jalan berkeliling desa Ketingan untuk melihat kawanan burung kuntul yang ada di desa yang memang dikenal sebagai habitat burung kuntul tersebut.

Berbeda dengan saat pertama kali saya ke sini sekitar 1 tahun yang lalu, omah kecebong telah banyak berbenah. Bagian belakang dan samping yang dulunya masih berupa hamparan rumput hijau bekas areal persawahan telah diubah menjadi saung dan gubug-gubug tempat makan. Berbagai spot bagus yang khusus dibuat untuk tempat para pengunjung berfoto telah tersedia juga...ini membuat omah kecebong semakin terlihat cantik dan asri.
Salah satu view di Omah Kecebong (doc pri)

Selain makanan yang tambah beragam, omah kecebong juga memiliki berbagai program gathering yang ditawarkan. Mulai dari familly gathering, outbond dan AMT untuk sekolah / korporasi, sampai pelatihan hidroponik bagi komunitas.


Nah, dikunjungan yang kedua ini saya ikut program pelatihan hidroponik bersama komunitas kuliner Langsung Enak Jogja.

Fasilitas yang didapatkan dari pelatihan ini adalah :
- teori dan praktik hidroponik
- hand on produk
- nutrisi untuk tanaman dan benih sayuran
- wellcome drink (es beras kencur) yang disajikan dalam cangkir-cangkir alumunium
- makan siang dengan menu ndeso (nasi putih, sayur lodeh, oseng lompong, ayam goreng kremes, kerupuk, teh panas)
- foto-foto dan keliling omah kecebong dengan didampingi petugas dari omah kecebong.

Dengan biaya 100rb rupiah dan durasi acara sekitar 3 jam (termasuk foto, pelatihan dan praktik hidroponik, serta makan siang).

Bagi yang tertarik dengan hal-hal yang berhubungan dengan cara tanam hidroponik, selain pelatihan omah kecebong juga menyediakan berbagai pernak-pernik yang berhubungan dengan hidroponik, mulai dari media, nutrisi yang dibutuhkan tanaman, sampai benih tanaman sayur atau buah juga tersedia. Lengkap sekali pokoknya.

Pukul 10.30 WIB acara pelatihan dimulai, diawali dengan perkenalan dan sessi foto-foto. Kami diajak berkeliling omah kecebong, diperlihatkan kamar-kamar yang ada di sana sambil berfoto bersama. Sekitar 30 menit acara berlangsung. Setelah puas berkeliling dan berfoto kami kembali ke joglo yang menjadi tempat berlangsungnya acara dan mulai mengikuti pelatihan tentang hidroponik.
Omah Gladak, salah satu kamar yang ada di Omah Kecebong
Spot di Omah Kecebong

Areal persawahan yang ada di Omah Kecebong

Jembatan Bambu

Dalam pelatihan itu kami dijelaskan mengenai untung ruginya bercocok tanam hidroponik dibandingkan cara bertanam konvensional.
Kami juga praktik bertanam hidroponik dengan cara yang sederhana yakni dengan media air statis (sistem wick) dengan memanfaatkan botol bekas aqua sebagai tempat dan menggunakan rockwool sebagai media. Caranya cukup mudah, botol bekas aqua kita potong pas di bagian  tengah. Kemudian potongan botol bagian atas kita balik dan kita letakkan di potongan botol bagian bawah sedemikian rupa. (Lihat gambar).

Hidroponik sistem wick ( sumber : kebunhidro.com)

Kemudian botol diisi dengan nutrisi secukupnya, kemudian benih sayur yang sudah kita semai di rockwool yang berumur kurang lebih 10 hari kita ambil dan kita.letakkan di bagian mulut botol yamg sudah kita letakkan terbalik. Agar nutrisi untuk bibit tanaman tercukupi,diletakkan semacam sumbu yang menghubungkan antara air yang terdapat di bagian bawah botol dengan bibit tanaman yang tumbuh di media rockwool. Untuk selanjutnya perawatan dilakukan dengan penambahan nutrisi tanaman dengan secara berkala mengganti air yang ada di botol, dengan cairan nutrisi baru.

Oh ya, hampir lupa, untuk dapat bertanam hidroponik, kita terlebih dahulu harus menyiapkan bibitnya, melalui proses pembibitan, caranya mula-mula biji tanaman kita masukkan ke dalam air, fungsinya untuk mengetahui bibit yang yang masih bagus dan yang tidak. Bibit yang bagus tenggelam di air sementara yang jelek mengambang. Bibit yang mengambang kita buang, sementara yang tenggelam kita ambil dan kita semai di rockwool yang kita letakkan di atas nampan yang diberi air. Rockwooll dilobangi dengan tusuk gigi dan benih diletakkan di dalamnya. Untuk selanjutnya nampan ditutup dengan plastik hitam sekitar 2 hari (tergantung jenis tanaman) sambil menunggu benih pecah dan tumbuh. Setelah benih pecah, plastik penutup dibuka untuk memberikan kesempatan benih tumbuh dengan baik. Letakkan nampan di tempat terbuka, dan teduh, namun masih memperoleh cahaya matahari untuk mencegah tanaman mengalami etiolasi.

Bagaimana? Cukup mudah dan sederhana bukan?

Sangat menyenangkan mengikuti kegiatan di omah kecebong. Suasana yang teduh dan hijau menjadi daya tarik utamanya. Dibandingkan saat pertama kali saya dulu datang ke sini, omah kecebong memang terlihat lebih ramai. Sangat cocok acara outing baik untuk keluarga atau korporasi. Terdapat juga areal tempat kita bisa mencoba permainan egrang. Yakni berjalan di atas 2 buah tongkat dari bambu yang diberi pijakan untuk kaki. Susah lho permainan ini, perlu keseimbangan badan dan yang pasti keberanian untuk mencobanya.

Menu yang disajikan juga bervariasi. Yang khas di sini adalah oseng dan kripik lompong. Oseng lompongnya tidak gatal, dimasak bersama cabe merah, bawang merah, dan bawang putih. Sangat enak dinikmati dengan nasi hangat, dengan lauk ayam, sambal, dan kerupuk dan secangkir teh manis hangat. Keripik lompong yang dulu sewaktu saya pertama kali datang ke sini disajikan sebagai welcome snack, sekarang dikemas kecil-kecil dan dijual dengan harga Rp. 10.000,- per bungkus. Kriuk dan gurih rasanya.

Menu.di omah kecebong

Penampakan oseng lompong dari dekat


Di Omah Kecebong, kita juga bisa menyewa pedati untuk berkeliling mengitari desa sekitar omah kecebong. Biaya per orang sekitar Rp.50.000,- rupiah/orang dengan minimal jumlah peserta 6 orang per pedati.

Seru bukan? Tertarik juga? monggo datang ke Omah Kecebong, jangan lupa untuk mencoba juga oseng lompong...

BACA JUGA :
Wisata Desa Ketingan
Menikmati Keripik Lompong Omah Kecebong